Friday, April 8, 2011

CERITA PENDEK

keutuhan ini tak dapat di pertahankan lagi, satu demi satu luka yang di simpan nya terkuak. Begitu perih, tak tertahankan, kegalauan menghantui  hari hari, mengganggu lelapnya tidur, menyesakkan tiap tarikan nafas, bahkan menangispun tak mampu meredakan kegundahan. Aku tak kan mampu bertahan hanya dengan berdiam diri, begitu banyak pertimbangan berkelebat, mana yang  harus dijalani membuat ku terduduk , semua nantinya berakhir pada suatu muara kesedihan penuh luka.
Dengan kekuatan hati yang masih tersisa, niat yang di tekadkan, entah demi apa,  aku melangkah, mencarimu sembunyi sembunyi, pengecut memang, tapi apa arti keberanian saat ini bila kehancuran sudah di pelupuk mata, perpisahan sedang di jelang. Lalu apa lagi yang aku cari? Luka yang lebih dalam kah? Apa masih kurang perih nya hati ini??
Perjalanan ini sangat jauh, melelahkan tapi tak lebih lelah dari psikisku, duduk sendiri dalam bis kosong ini makin membuatku leluasa berurai air mata, tak ingin tapi apa daya perempuan lemah yang hanya berbayang air mata, seperti teman perjalanan, sekali hati bicara sekali air mata berlinang, inikah takdir ku? Perjalanan ini seperti saksi bisu, satu persatu keping hatiku berderai, terlepas, mengiringi langkah ini, apakah nantinya saat tiba di tujuan ia masih tersisa? Entah lah, lagi…air mata yang menjawab nya…
Ingin ku habiskan perjalanan panjang ini dengan tertidur lelap tanpa mimpi, biarkan ku sejenak terlupa dengan semua sandiwara ini, ataukah ini memang nyata…? Bahkan aku tak tahu lagi nyata ataukah ilusi semua yang terjadi ini…setiap kali mata ini terpejam  bukan keheningan yang di dapatkan tapi penggalan penggalan kisah yang perih yang mengguncang jiwa yang sulit di percaya tapi semua telah terjadi, lirikan mata itu… kata kata dalam kebisuan.. begitu terasa menusuk hatiku, mengaburkan mataku, kejam…  sepanjang sisa hari itu satu persatu luka tergoreskan, kuterima dengan kepolosan , memberikan sebentuk hati yang terbuka lebar untuk di lukai, di rajam, di sayat perlahan lahan, dan seperti tanpa beban kau pun menari di atas lukaku yang belum kusadari…
Teman seperjanan menyapa, sekedar berbasa basi tuk mengurai pejalanan agar terlihat lebih indah dan tak membosan kan…tapi ku terlalu lelah bahakn hanya tu menjawab sebuah sapa..bila kesombongan tergambar di raut wajah letih ini, biarlah… aku tak peduli pada apa yang mereka nilai, pada apa yang mereka lihat…aku telah hancur pada permulaan babak sandiwra ini.. aku seperti ingin sembunyi jauh dalam kesunyian, mengumpat diri sendiri, membenci kelemahanku, memhanguskan semua rasa yang pernah tercipta, tapi dimanapun aku sembunyi bayangan senyum licik kalian menghantuiku hingga dalam mimpi….
Melongokkan kepala ini sedikit keluar jendela bis ini..berharap udara segar memenuhi otak dan paru ku tuk sekedar melegakan sesak nya derita dan beban berat ini..lagi…setetes air mata berlinang tak sempat jatuh karena tersapu angin, memendarkan nya pada seluruh jagad ini seolah hendak bercerita betapa kelam hatiku kini…ratusan deretan pohon rindang menemani berkilo2 meter perjalanan panjang ini seolah menjadi saksi bisu perjalanan hidup ku kala suka juga duka…. Kini aku sendiri..menghitung ratusan pohon2 rindang itu sembari mengkalkulasinya dengan hari  yang mash ku miliki bersama mu… manakah yang lebih banyak….? Mungkin…air mata lah yang terbanyak…tak terhabiskan..
Sunset di tepian jalan itu mulai beraksi, memamerkan keindahan nya, keceriaan nya,kehadiran nya sepanjang masa yang ia miliki.. seolah berbisik mengabarkan padaku dalam hitungan menit ku akan tiba di kota itu… seperti ketika akan berangkat perlu di kuatkan tekad tuk menjejak kan kaki di kota ini…tuk siap terluka… ya allah…inikah yang ku cari di kota ini…?
Jelang magrib, ku masih bertanya Tanya pada hati, keman tujuan ku..kemana aku menginap malam ini… tak banyak pilihan lagi, satu penginapan sederhana menjadi tempat peraduan ku malam ini, tempat ku bertawakal, tempat ku menangis, tempat ku mengeringkan luka ini sejenak tuk dapat bertempur hati beberapa hari kedepan, tapi mampukah luka ini mengering secepat itu…?
Seorang teman ku kabari sekedar hendak memberitahukan kebaradaan ku, tak ada yang tahu dimana aku sekarang dan apa yang akan aku lakukan, setidak nya biarlah dia tahu andai terjadi apa apa seseorang bisa tahu kemana harus mencariku…betapa sendirikah hidupku…? Baru kusadari aku tak punya banyak tempat tuk sekedar bercurah hati, berkeluh kesah…cinta telah membutakan hatiku.. cinta telah memaksaku untuk tidak mengenal siapapun, cinta telah mengekang penuh hidupku tanpa ruang gerak sedikitpun, cinta membunuh jiwaku.. semua demi cinta..tapi cinta tak selamanya berpihak padaku.
lama ku mengguyur tubuh ini dengan dingin nya air  di kamar mandi sempit ini berbaur dengan air mataku.. hanya satu kalimat menemani kesendirian ku…”kuatkan aku ya allah…” tubuhku sudah menggigil tapi pikiranku belum mampu juga ku dinginkan.. terlelap sejenak di dipan sederhana ini, lelah ku tak tertanggungkan lagi…
seorang teman datang, melihat ku penuh iba kala pintu kamar terbuka. Aku coba tersenyum membiaskan kesedihan yang mungkin masih kentara.. di bawakan nya dua bungkus nasi karena dia tahu aku pasti belum makan.. suap demi suap kupaksakan melewati tenggorokan ini, besok ku butuh tenaga extra… sembari makan, aida terus memaksa agar aku menginap di rumah nya, jangan sendiri di penginapan ini katany, tegas ku katakan aku ingin disini saja..”tempatmu tak aman..” itu kata pemungkasku..aida pasrah,ia menyadari itu, setelah di pastikan nya aku baik2 saja dia pamit pulang dengan pesan2 yang sepertinya tiada akhir…oh aida…luka ku sudah begitu mengangga lebar, luka2 kecil lain nya sudah tak terasakan lagi..tak akan ada yang mampu menyakitiku lagi karena semua kumpulan rasa sakit baru saja aku alami…
Ku antar  aida pulang karena motornya ingin ku pinjam beberapa hari, setelah megantar aida enggan ku pulang kepenginapan itu…sendiri membuatku makin bersedih..luka ku belum sembuh,kering pun masih terlalu lama… simpan sejenak luka itu…lupakan dulu rasa sakitnya, kini ku butuh kekuatan hati, tekad baja dan ketegaran… entah untuk apa..tapi ku tahu berderet luka akan manyayat hati dan persaan ku kedepan nya..
Tak banyak tempat tuk bisa di datangi di kota ini.. ku hanya berjalan menuju timur kota ini, sendiri…dalam kegelapan malam, tak apa.. dengan begitu tidak ada yang tahu sepanjang jalan ini air mata menemani diriku.. tergodaku tuk menemuimu, mencari jawab atas semua sandiwra ini, menghalau gundah ku belakangan ini, merengkuh cinta yang masih tersisa.. tapi hatiku kepalang luka.. tekad ku terlanjur besar tuk mencari bukti kesetiaan mu..bukan lagi mencari cintamu... Kesedihan ini membuatku terlupa kesunyian jalan ini, gelapnya begitu pekat, tak banyak yang hilir mudik, hanya sesekali lampu kendaraan muncul menyalip motorku… sejenak menoleh kebelakang…sudah berapa jauh kah perjalanan ku ini…? Terbesit rasa takut bila ada oarng berniat jahat mengingat ku hanya seorang perempuan yang rapuh karena luka, telepon aida mengingatkan ku tuk segera pulang… kekhawatiran dari nada bicaranya membuat ku yang lebih khawatir padanya mengingat ini masalahku bukan masalahnya…aida benar, ku mesti segera pulang..perjalanan ini sudah terlalu jauh pun sudah larut malam.. bahaya bisa membayang.
Tapi…. Apa yang baru saja aku lihat…??
Deru jantung ini tak bisa terkendali membuat tubuhku bergetar hebat, motorku oleng, aku harus berhenti tuk menenangkan diri…
Kau disana… dengan dia…..
Dalam sebuah mobil mewah…
Secuil hatiku yang mash tersisa pun hancur.. harapan ku pupus…
Mana janji manismu…? Mana sumpah sumpah mu..? mana kesetiaan mu…??
Tuhan… aku belum siap.. luka ini mulai merayap..mencari tiap lekukan tubuh yang masih bisa d sayat.. bila mungkin berlapis lapis… aku sudah tahu apa yang akan aku lihat di kota ini... tapi ternyata aku tak pernah bisa siap menerima kenyataan ini..kebenaran ini… aku masih menangis ..aku masih berontak, berteriak dalam hati sembari mengobarkan emosi…marah kepada yang di atas…apa arti setiaku..?! apa arti pengorbanan ku..apa arti pengukungan diri atas diriku yang kuterima total tanpa syarat.. ini kah balasan nya..inikah yang pantas aku terima…?? Adil kah… lagi…ku hanya bisa menangis..
Ku iringi perjalanan kalian menembus malam yang kian kelam..menambah asyik kalian yang did lam sana..sementara ku menggigil hingga jauh kedalam lubuk hati..tempat kusimpan murni cinta kita… tergoda ku tuk menghentikan kalian, meluapkan emosi..menuntut janji2 kalian, menanyakan keabsahan sumpah kalian demi meredam emosi ku beberapa waktu silam, tapi untuk apa ku cari semua itu… nyata jelas kalian menari di atas deritaku, luruh sudah semua percayaku, keping hati yang masih tersisa pun telah kalian injak injak agar hancur berderai..jiwa kalian sedang bertabur cinta, hati kalian terbutakan.. setiap kata yang tak berpihak menjadi mush bagi kalian.. dan aku.. musuh terbesar dalam kehidupan kalian.. dengan posisi sekarang, menghentikan kalian membahayakan jiwaku..Tuhan… betapa dunia menjadi terbalik karena cinta..
Beberapa ratus meter kedepan kan tiba d rumah pujaan hatimu yang sekarang..jujur ku berharap kau menurunkan nya disana, dan kita bisa bicara dari hati ke hati tentang sandiwara ini..siapa lakon nya…siapa dalang nya..dan kapan tirai akan di tutup.. tapi kalian melaju tanpa ragu menembus malam..entah mau kemana..lagi…ku ikuti jejak kalian..terlupa bila jemariku telah membeku karena dingin nya malam.. terlupa sesak nya nafasku karena kesedihan…entah kau curiga atau tidak..berjam jam ku menjejak kalian.. membayang obrolan hangat kalian sementara ku diam dalam kesunyian.
Sebuah penginapan sedikit mewah,kau turunkan gadismu.. ku tak bisa berjarak dekat mengingat terang menderang nya lampu penginapan, khawatir diriku tersingkap.. sejarak aman menurut penglihatanku, kupantau dirimu mengantar wanitamu memasuki penginapan itu, mobil mewahmu terparkir mantap di pelataran.. Tuhan ku..mengapa aku hanya berdiri mematung disini..membiarkan luka menyayat nyayat tanpa belas kasihan.. sudahlah… aku harus kuat.. aku datang kesini mencari bukti..dan tak ingin ku sia siakan..tanpa bukti kongkrit ku hanya akan di anggap mengada ada..mencemarkan nama..cemburu buta bahkan mungkin di anggap memfitnah, Tuhan…untuk sebuah  bukti ku harus hancur lebur dalam kubangan duka..tragis…
Malang bagiku…sebuah mobil container parkir sejenak menghalangi pandangan ku beberapa menit, membuatku gelisah namun berusaha ku tunggu dengan sabar.telepon genggam ku berdering tiada henti seolah hendak mengabarkan berita penting..tapi ku tak peduli, aku tak boleh hilang focus, tapi dering nya tak jua berhenti membuatku bertanya tanya siapakah yang menelpon selarut ini..
Ternyata aida..memohon mohon agar aku segera kerumahnya , sekarang…! Aida di bawah tekanan..tergambar jelas pada nada suaranya, ada apa…?
“Miki di sini…di rumahku..” tersendat sendat aida menjelaskan
Aku tersentak kaget..tidak mungkin, bukankah dia sekarang ada di depan mataku, sedang mengantar wanita barunya. Ku tak mungkin salah lihat, plat nopolnya sudah benar, reflek kulihat kearah container yang mmenutupi pandanganku, risau hatiku apakah mereka sudah pergi..? ku hidupkan motor nekad mendekati penginapan, dan benar…mobil itu tak di sana lagi. Aku bimbang, menimbang nimbang apakah mencari tahu kepenginapan itu, tapi , lagi…aida menelpon tapi suara yang ke dengar di sebarang sana begitu berat dan familiar..Miki…
“kau dimana…!” bentak nya..
“Di tempat kau baringkan wanitamu” jawabku berusaha berani tuk menutupi rasa takut yang mulai merayap menggerogoti rasa percaya diriku yang telah ku bangun beberapa hari ini.
“jangan macam macam ! cepat kesini! Ku tunggu d rumah aida !!” bentak nya lebih keras lagi.
Ya tuhan…beginikah cara berbicara pada belahan jiwa…apakah kasih sayang dan cinta telah berubah..? tapi ku memaklumi nya..cinta telah membutakan..tak mampu melihat kebenaran, kesalahan menjadi begitu indah untuk di nikmati, untuk di kecap sembunyi sembunyi, untuk di bungkus begitu rapi seperti sebuah kado valentine tuk sang pujaan hati dan menjadi kain kafan bagi diriku..
Memasuki pekarangan aida telah terpakrir secara sembarangan mobil mewah miki, garang, seperti tak ingin ku sentuh lagi..biarlah…cintaku bukan pada materi..dalam nya dirimu aku yang lebih tahu ketimbang mereka diluar sana yang silau pada apa yang kau miliki… ku parkirkan motor aida di belakang mobil miki karena memang ku tak bisa masuk kedalam lagi terhalang mobil mewahnya. kusimpan kunci motor dalam saku jaket yang kupinjam dari aida rasa waspada mulai terbentuk di pikiran ku, terlihat beringas miki berdiri di depan pintu.
“mengapa kau tak kerumah..! malah keluyuran malam malam..! dari mana..?!” serang miki sebelum sempat ku menginjak teras rumah aida.
“aku tiba kemalaman..” jawab ku tak ingin melawan kekerasan nya…tak ada guna,
“tapi kau bisa menelpon ku!” jawab nya tanpa sedikitpun merendahkan intonasi nadanya..
Kulirik aida, pasti dia sudah bercerita pada miki…
“aku tak bisa menelpon nomer mu selalu berganti ganti..” jawab ku apa adanya…
“bohong..! kau hanya ingin memata matai ku kan..?!”
“kalo iya ..kenapa…?”
“Jadi sudah berani sekarang ya…! Mau kau aku cerai…?!!”
Aku terkesima… ya..aku sudah berani sekarang..dulu aku wanita lemah di bawah kepemimpinan mu, bukan karena ku terlahir lemah tapi kau mendoktrinku menjadi lemah, setiap hari..setiap waktu..bahkan kau membuat hidupku ketakutan,kau tak pernah menyakiti fisikku, kau begitu menjaga nya seperti menjaga porselen penghias lemari jati..tapi kau meyakiti mentalku bertubi tubi, kau membuat jiwa ku menciut, kau batasi kehidupan sosialku bahkan dengan para sahabat sahabat perempuanku, kau larang ku kuliah…demi cinta…begitu katamu.. semua kupatuhi…demi cinta, begitu pikirku, tapi kini aku sudah berani, beberapa hari ini telah membuatku bermetamofose menjadi wanita yang terjaga dari tidur nyaman nya karena luka yang kau goreskan diam diam..
“itukah jalan keluar nya..? baik… bila kau sudah tak peduli dengan rumah tangga kita , mari kita hancurkan bersama sama apa yang sudah kita bangun bersama pula..tapi semua ini ada konskwensinya..aku tak ingin hanya aku yang menderita,kau juga akan menderita karena ulahmu sendiri, aku akan laporkan ulah kalian pada atasan kalian..” jawabku yakin namun sedikit gemetar karena telah kulihat gelegak emosi di wajah miki, padam muka nya karena menahan marah juga karena tidak terima atas ancaman ku, aku sudah pasrah..semua sudah di ujung tanduk, aku pun enggan lagi mempertahankan nya karena rasa percaya ku sudah habis terkikis kebohongan demi kebohongan.
Miki mencengkram tanganku, menariknya paksa , jaketku setengah terlepas, gemerincing kunci motor terdengar nyaring di lantai teras.. ya allah..aku pucat pasi, kunci penyelamat jiwa ragaku jauh dari jangakuan,belum sempat aku berfikir untuk mengambil kunci itu, leherku tercekat..sesak..tangan kanan miki mencoba mencekik ku sementara tangan kirinya menjambak rambut tu membuat ku terkunci dalam seperti mustahil lolos dari ambisi buas nya… ilusi ku tak sempat tuk berfikir apa yang terjadi ini apakah mimpi..aku hanya mencoba bernafas, sedikit demi sedikit, tersendat sendat, mempertahankan hidupku dari tangan orang yang kuserahi jiwa raga ku..yang ku percaya menjaga hatiku, yang ku korbankan segala hidupku demi hidupnya..aku hampir tak bisa bertahan, aku lemah.. psikis ku pun melemah, tak ada kekuatan yang mampu menolongku dari cengkaraman tangan nya.. aku berjuang pun untuk apa.. semua sudah berakhir, sementara dia berjuang untuk wanita nya, menyelamatkan wanita nya dari kehancuran dengan menghacurkan aku..ya Tuhan… mengantar nyawa kah aku kisini…?? Aku sedih..tapi tak mampu menangis ..yang ku perlukan adalah nafas…bukan air mata saat ini.. inikah nasib ku…?? Meregang nyawa di tangan suamiku sendiri… ironis….
Disaat aku hampir menyerah ternyata aida tidak tinggal diam melihat pergulatan yang tak pantas ini, dia menarik miki mencoba melerai kami, kosentrasi miki buyar.. tangan nya meregang, tanpa sela  ku berontak melawan mencoba melepaskan diri..mencari selamat, menghirup udara seluas luasnya..aku coba berlari, tapi miki mash sempat menrik jaket ku, pergulatan sepertinya akan terjadi lagi, kulepaskan jaket ku agar bisa meloloskan diri dari ambisi setannya..namun malang kunci motor tak dapat kuraih, aida berteriak..
“lari..! lari..!”
Tak ada jalan lain..aku berlari sekuat tenaga yang masih tersisa, bersyukur aku tadi aida sempat membelikan aku nasi bungkus dan menemani ku makan sehingga tenaga yang ku perlukan besok ternyata begitu berguna malam ini..
Terdengar oleh ku deru mesin mobil yang di hidupkan terburu buru dan gas yang di paksa..Ya Allah, apa Miki mau mengejarku dengan mobil…Gila ! cinta memang sudah menggilakan hati nya, masih sempat kudengar tebrakan kecil ternyata mtor aida terpaksa di tabrak nya agar ia bisa keluar dan mengejarku..aku terus berlari..tiba tiba jalan yang kususuri terliat begitu terang dengan sorot lampu, kulihat kebelakang ternyata dia sudah begitu dekat dengan ku tapi tanpa mengurangi kecepatan mobil nya..ya Allah..apakah dia akan senekad itu…Tuhan…selamat kan aku..bisikku diatara detak jantung ku yang tak beraturan lagi dan gemetar kakiku karena letih..bila aku terus berlari ..bisa bisa aku mati .. akal sehat ku muncul..secepat kilat aku berbelok pada gang sempit yang tak mungkin di lewati mobil.. namun aku salah pilih jalan..ternyata itu hanya gang menuju rumah orang, tak apalah pikirku, aku harus sembunyi agar selamat.. aku terus berlari sekuat aku mampu..tiba tiba aku terjatuh, perih rasa di pahaku..celana jeans yang kupakai terasa lembab, ku rabai.. cairan lengket menempel di jariku..apakah aku terluka..? apa yang membuat aku terluka..? malam begitu pekat.. sudah pula hampir tiba pada penghujung malam, tak jelas apa yang terjadi pada pahaku.. yang pasti perih….
Aku bangkit..tertatih..mencoba berjalan, karena lari sudah tak mampu lagi… lagi aku terjatuh, ternyata dua baris kawat duri setinggi pinggang menghadang.. inilah penyebab luka ku.. malam yang pekat membuat ku tak melihat ada pagar duri membatas halaman orang, tak cukup luka hati ini harus pula kurasa luka fisik ini…perlahan ku lewati pagar itu dengan merunduk, merayap layak nya orang mau maling…tidak..! aku tidak berniat jahat..! aku hanya mencoba menyelamatkan jiwa ku… walau aku juga tak tahu, selamatpun untuk siapa lagi kini…
Perlahan ku ketuk pintu rumah yang sudah sedikit kusam, lampu teras walau tak begitu terang tapi tetap membuat ku ketar ketir cemas bila ku terihat oleh miki.. mungkin sudah lewat tengah malam, wajar bila tak kunjung juga pintu terkuak..sang empunya mungkin sedang bercanda di dunia mimpi..membuai malam hingga fajar merekah.. rumah siapa ini aku tak tahu, setidak nya ini rumah pertama yang bisa ku ketuk..berharap mendapat rasa aman di dalam nya tanpa sedetikpun terlintas bahwa mereka benar2 orang asing yang tak ku kenal yang mungkin tak bisa ku percaya, tapi apa bedanya..bahkkan orang yang begitu mengenalku begitu ku kenal dan telah menjadi bagian dari jiwaku sekarang telah berubah jadi orang yang teramat asing yang bahkan mengancam jiwa.. rumah ini tak menawarkan keamanan tapi diluar sana pun tak lebih aman…Ya Allah, sandiwara ini teramat kejam…
Seorang wanita paruh baya membuka pintu beberapa menit kemudian, terkesima dengan wajah kantuk luar biasa, belum sempat ia menggungkapkan rasa keterkejutan nya, aku menghambur masuk sembari memohon tuk di ijinkan beberapa saat diam di dalam rumah ini.
“tolong aku…! Tolong selamatkan aku…..” hanya itu yang mampu terucap,Mungkin karena Iba melihat kakiku berbecak merah..darah…! belum lagi muka bersimbah air mata, disuruhnya aku duduk dulu, segera menutup pintu, menguncinya rapat dan terdiam sesaat mengamati tamu tengah malamnya, lagi…tanpa banyak bertanya , ibu paruh baya itu menyuguhkan segelas air putih, aku terpana…bahkan orang asing pun masih punya rasa iba. Dengan gemetaran seperti getaran jantungku, ku coba minum seteguk tuk menyadarkan aku dari mimpi buruk ini.. sembari beristigfar ku coba menenangkan diri…
“siapa kau nak..?” Tanya ibu itu,berusaha berbahasa Indonesia semampunya karena dia sepertinya tahu aku bukan penduduk kota ini. Belum sempat ku jawab, muncul seoarang gadis belia, menguap karena tidurnya terganggu.
“siapa nek?” tanyanya curiga menggingat malam segera berganti pagi.
“aku mayya, istri Miki yang tinggal tak jauh dari sini..”
“oo.. aku kenal bang miki, dia sering mampir tempat mbak aida..” jawab si gadis belia namun terputus seprti menyimpan sesuatu..aku tak peduli apa yang disimpan nya, tak kan lagi membuat aku terkejut, mungkin malah kisah ku ini lebih membuatnya ternganga
Maka ku ceritakan apa yang telah terjadi malam ini, mereka terkesima, tak percaya, ngeri bercampur campur di guratan wajah mereka,aku merasa damai ada di antara mereka walau mereka benar benar asing bagiku. Dengan penuh kelembutan mereka berdua menghiburku, menguatkan aku, dan menasehatiku, mereka percaya kisah ku karena mereka pun sudah banyak mendengar dan melihat semuanya, ternyata aku lah orang terakhir yang mengetahui sandiwara ini, semua karena kepolosan dan rasa percaya yang enggan setengah setengah.
Ditawarkan nya kamar untuk ketempati malam itu, tapi ku menolak nya, aku tak ingin menyusahkan, aku ingin tidur di kursi ini saja…aku benar benar kelelahan, fisik dan psikis hingga enggan beranjak dari tempat duduk ku, ku paksakan agar mereka kembali tidur dan aku pun mencoba tidur..dalam kelam..dalam sepi sembari sekali kali menyeka air mata ini..
Hp ku terus bergetar tiada henti, tapi tak mampu menggugah hatiku tuk sekedar mencari tahu siapa yang menghubungi, bahkan bila miki pun aku tetap tak peduli, aku benci…benci dengan apa yang telah terjadi, aku pun benci pada diriku sendiri yang ternyata belum siap dengan kenyataan ini, aku datang seperti ingin menyia nyiakan nyawa, menghantar nya ke liang luka.ku matikan hp, aku ingin sendiri, meratapi luka ini. Tak sedetik pun aku bisa tertidur apa yang terjdi hari ini terus berputar seperti menonton layar lebar twenty one, menyakitkan tapi terus berputar ulang tanpa mau berhenti, menyayat luka luka berulang ulang membuatnya semakin perih, luka kaki ku hampir terlupa, darah nya semakin mengering membentuk noda mengeras di jeans ini, ku raba pahaku, ada robekan pada celana itu, tapi kulit ku lebih dalam lagi robek nya..perihhh..
Azan subuh berkumandang, aku lelah terjaga sepanjang malam, sakit kepala juga sedikit mual tapi tak ingin kelihatkan pada si empunya rumah, mereka sudah cukup ku repotkan, dengan tangan bergetar ku salami mereka sembari pamit dan berterima kasih sebanyak yang bisa ku ucapkan, mereka berkaca kaca seolah turut di rudung duka.
Ku hidupkan hp sembari melangkah gontai entah hendak kemana, yang pasti menghindari miki, berlari sejauh mungkin dari dirinya. Aida segera menganngkat telpon nya, aku tahu, semalaman dia pasti menunggu kabarku penuh gelisah,
“Temui aku di penginapan da..aku tak bisa kembali kerumah mu..” ucapku liRih.
Aku tak peduli tatapan penerima tamu penginapan ini yang penuh selidik..aku tak peduli…! Setelah mengambil kunci segera aku berlari keperaduan sesaat ku dan menangis sejadi jadinya, meratap..bertanya.. mengadu..kenapa semua ini menimpa ku..di mana salah ku..? apa dosa ku ..hingga derita ini seperti tak tertanggungkan, mengapa yang salah justru kokoh tuk di tentang, justru hebat menganiaya perempuan , begitu beringas ketika terancam,
 akulah yang terancam…! Hidup ku..masa depan ku..dan…Amira…
Lagi..aku tergugu  menangis pilu… amira..amira.. aku merindukan nya.. gadis kecil ku..nyawa kedua ku, kekuatan kecilku,bintang di tiap kelam malam ku, pelangi di muram hariku. Aku seperti tersadar, amira.. membangkitkan semangat ku, menggingat kan aku bahwa hidup ku mash berharga, amira…aku menangis mengingatnya kala ku tinggalkan kemaren dg bibinya, sembari memberi janji janji indah tentang ayahnya….
Aida datang tergopoh gopoh, terkejut kala pintu terbuka untuk nya, demi melihat diriku yang hancur berantakan luar dalam, tak perlu khawatir aida ucapku dalam hati.. cinta telah membunuh jiwa ku..
“dimana kau semalaman mayya…?? Kenapa tidak menghubungi ku..?? kenapa hp mu mati..?? kau tak apa apa..? ya Tuhan… luka apa ini..??” aida memberondongku dengan pertanyaan.
Kuceritakan singkat kejadian tengah malam itu, aida hanya bisa mendesah pilu, menangis tertahan demi melihat derita teman nya yang seperti tiada berujung,
“maafkan aku may..tiba tiba Miki datang dan memaksa aku menceritkan bahwa kau ada di kota ini, entah dia tahu dari siapa..” sesal aida
“Tak apa.. sudah lah, semua sudah suratan hidup.. Aku kesini memang ingin mencri bukti kongkrit sandiwara mereka, dan aku sudah siap sekuat mungkin dengan semua kemungkinan, tapi ternyata aku belum mampu dan aku pun tak menyangka separah ini respon nya,
 Aida… aku tak sanggup lagi membiarkan mereka melukai ku… hatiku sudah hancur tapi ku tak mau raga ku pun mesti remuk redam karena kekalapan Miki, masih ada Amira yang menunggu ku, cukuplah dia kehilangan ayahnya tak perlu pula dia kehilangan ibu nya di belia usianya. Aku harus  pulang da… biarlah mereka berdua berbuat sesuka hati, dunia sekarang sedang milik mereka, walau ku hantarkan amira kehadapan miki sembari menangis darah tak kan mampu menggoyah cinta mereka, aku menyerah da.. tapi mulai detik ini aku akan berjuang untuk amira, dia lebih pantas mendapatkan cinta dan sayang ku seutuh nya, Miki harus aku lupakan, sebesar cinta ku dulu pada nya maka sebesar itu pula bencinya aku sekarang padanya, tapi sebelum aku pulang, akan ku temui atasan miki dan meceritakan semua ini… terserah bagaimana hati  nurani mereka tuk mencari jalan keluar nya, nasib ku ku pasrahkan pada Allah..”
Tengah hari, setelah berkemas seadanya, mandi dan berganti pakaian yang lebih layak aku meninggal kan penginapan ini di antar aida hingga pintu Bis, dengan lirih dia berbisik menguatkan hatiku agar aku tegar..aku tersenyum melegakan hati aida walau hatiku belum lah sempurna..
Sekali lagi..dalam bis yang setengah kosong ini aku duduk di dekat jendela..memandang jauh keluar, mengingat laraku yang sepenggal tapi menghanguskan seluruh hatiku, aku menangis , meratapi kepasrahan ku…mengingat indah nya cintamu juga mengingat kejamnya luka yang kau torehkan, kesetiaan yang kau tuntut selama ini tak sebanding dengan apa yang aku dapat, kesendirian ku yang kau harapkan agar ku hanya untuk mu,kau campak kan di tengah hamparan kesunyian tanpa teman, kau menyakitiku belipat lipat, aku terdampar sendiri dalam keheningan,
Seperti deru bis yang meninggalkan kota ini, ku tinggalkan pula kenangan pahit di sepanjang jalan ini, membuangnya agar tak lekat terus di ingatan ku, membiarkan nya tertiup angin dan pergi sejauh mungkin untuk dapat kulupakan… aku ingin pulang..pulang ke  Amiraku..mendekapnya, menangis di peluknya dan membagi luka ini dengan belaian nya,,mengobati luka ini dengan senyum dan tawa renyah nya..

                                                                                                                                Writen by
                                                                                                                                Ema Barm Valentain



Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment